Namaku Briana Laurent, usiaku 17 tahun menuju 18
tahun. Wajahku terbilang tidak jelek kulitku putih, mataku sebiru laut,
dan rambut pirangku yang sedikit bergelombang selalu ku kuncir apabila ke
sekolah selalu menjadi gayaku. Aku tinggal bersama ibuku Margaret di sebuah
kota bernama Neville di distrik 13. Ini adalah tahun terakhirku di Holland's
School, sekolah untuk mengasah bakat satu satunya di kota ini. Omong kosong.
Aku bahkan tidak tahu apa bakatku sendiri. Tidak ada pelajaran yang bisa Aku
ikuti dengan baik, bisa dibilang Aku ini buruk dalam segala hal. sebenarnaya
hampir setengah dari murid di sini memliki masalah yang sama denganku. Belum
memiliki bakat atau yang lebih buruknya tidak memiliki bakat. Aku sedikit lega,
setidaknya Aku bukan satu satunya yang tidak berbakat. hal yang paling kusukai
dari sekolah ini adalah duduk di kantin sekolah saat jam istirahat dan
mengamati setiap aktifitas yang terjadi setiap harinya. Seperti sekarang ini.
Pandanganku tertuju pada taman yang terpampang dihadapanku.
Mungkin tidak terlalu luas namun penataannya yang indah yang menarik
perhatianku. Taman itu terlihat sangat alami dengan didominasi warna hijau dari
tanaman yang tumbuh disekitarnya. Ada setidaknya 3 pohon besar yang rindang
disisi - sisi taman yang dibawah nya di pasang kursi tanam yang di cat
senada. Ditengah taman terdapat kolam air mancur yang indah.disekeliling kolam
ditumbuhi tanaman bunga yang beraneka ragam yang menambah keindahan kolam.
"Bri?" alexi nempuk pundaku tiba-tiba, sontak
membuyarkan seluruh lamunanku.
Alexi adalah teman terdekatku. meski kami tidak terbilang
akrab tapi kenyataannya dia lah orang yang paling sering bersamaku di sekolah
ini. Alexi adalah gadis yang cantik, kulitnya putih, rambutnya berwarna pirang
yang selalu ia gerai saat ke sekolah. Dia berasal dari keluarga yang cukup
berada. Keluarganya juga cukup terkenal di masyarakat. Ayahnya bekerja sebagai
natther, semacaman petugas penegak keadilan di kota ini.
"Alexi?" Tatapanku tertuju pada alexi yang
sekarang duduk di kursi di depanku. Kemudian ku alihkan pandanganku ke makan
siangku Yang belum sempat kusantap.
"Bagaimana pelajaranmu hari ini?" Tanyanya yang
mulai menyantap makan siangnya. Alexi adalah satu satunya orang Yang mengerti
masalah bakatku.
"Seperti biasa" jawabku sekenanya. Tanpa
mengalihkan pandanganku pada Alexi.
"Kau harus rajin berlatih" ungkapnya. Alexia paham
betul apa yang menjadi masalah ku di sekolah ini.
"Kurasa tidak akan ada perubahan" sergahku, sambil
terus menyendokkan makanan ke mulutku.
Kringg...Kringg...
Kringg...Kringg...
Bel tanda istirahat berakhir terdengar, aku mulai beranjak
dari tempat dudukku.
"Aku harus segera masuk ke kelas" ucapku kepada
alexi.
"Mr.Hugh?" Tanyanya, dia paling mengerti jika aku
buru - buru begini pasti kelasku selanjutnya pelajaran sihir. Mr.Hugh adalah
guru sihir yang paling di siplin. Aku ingat dulu pernah di skor olehnya karna
bolos di pelajarannya, itu sekitar 1 tahun yang lalu, dan itu membuatku di
ceramahi orang tuaku tanpa henti.
Aku menjawab dengan senyuman masam.
Baiklah, Mari kita
akhiri pelajaran hari ini, aku lelah sekali, rasanya aku ingin segera pulang
dan menjadi putri tidur. Aku berjalan melewati koridor di samping kanan kantin menuju
kelas sihir sebelum Mr.Hugh datang agar ia tak menghukumku lagi.
Dan ku harap pelajaran ini cepat berakhir.
-------------------------------------
Hey..Hey...itu chapter 1 yak.
Gimana chapter 1 nya??? Maaf aja kalau gaje, soalnya itu
cerita pertamaku.
Ditunggu vote & komen-nya yak 😁.
